Sabtu, 16 Juni 2012

Merancang Bangunan Tahan Gempa


Indonesia adalah negara yang termasuk dalam negara yang rawan dengan gempa. Bencana alam yang terjadi dibeberapa negara di dunia seolah mengingatkan kembali tentang pentingnya mendirikan bangunan tahan gempa.

Frekuensi gempa di Indonesia cukup tinggi. Untuk mengurangi timbulnya kerusakan bangunan akibat gempa, sudah semestinya bangunan yang ada di Indonesia termasuk rumah tinggal dibangun dengan memperhitungkan kemungkinan adanya gempa.

Sebenarnya yang dimaksud dengan bangunan tahan gempa bukan berarti bangunan itu tidak akan rubuh bila ada gempa. Bangunan dapat disebut tahan gempa bila saat terjadi gempa ringan, bangunan tersebut tidak mengalami kerusakan secara struktural maupun kerusakan pada elemen-elemen bangunannya. Pada gempa besar, bangunan boleh saja rusak, asalkan tidak membahayakan penghuni di dalam bangunan. Setidaknya, penghuni punya waktu untuk dapat menyelamatkan diri sebelum bangunan runtuh.

Peneliti geoteknologi dan paleoseismologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto mengatakan pentingnya bangunan tahan gempa di Indonesia. Bangunan terutama rumah yang tepat dapat mengurangi resiko keselamatan.

Eko menyebutkan untuk merancang rumah tahan gempa bisa dengan merancang bangunan tidak permanen atau benar-benar kokoh tapi tentunya biaya yang dikeluarkan untuk membangun bangunan lebih mahal.

Namun, bagi kebanyakan orang yang tak cukup biaya mendesain banguna yang kuat tahan gempa, Eko juga menyebutkan ada beberapa cara untuk meminimalkan resiko kematian. Masyarakat dapat membangun dengan konstruksi yang simetris atau berbentuk kotak. “Kolom betonnya dibuat simetris karena akan lebih kuat strukturnya,” katanya.

Tak kalah penting, unsur struktur bangunan seperti kolom rumah dan slope diperkuat sementara unsure non struktur dibuat seringan mungkin. “Seringkali orang memandang tembok sebagai unsur struktur, padahal bukan. Tembok fungsinya sebagai penutup. Dalam beberapa kasus, tembok yang dibuat berat malah menjadi pembunuh saat gempa terjadi karena menimpa orang yang didalam rumahnya,” paparnya.

Di Jepang, kata Eko, kebanyakan bangunan dibuat semi permanen dimana partisinya dibuat dengan bahan ringan seperti bubur kertas, kayu, styrofoam. “Mungkin kalau di Indonesia bisa dipakai bambu atau kawat yang diperkuat baru nanti dirancang seolah-olah seperti tembok. Ketika guncangan terjadi, rancangan ini tidak terlalu mengancam,” ujarnya.


Lalu untuk membangun slope diagonal, yang menghubungkan antartiang rumah, sebaiknya dibuat lebih lemah daripada tiangnya. Menurut Eko, ketika terjadi guncangan karena gempa, slope yang lebih berat akan mengalami patah di tengah dan menyebabkan kerusakan bangunan.

Selain itu beberapa tip berikut juga dapat meminimalkan terjadi korban yang disebabkan kerusakan bangunan.

  1. Pondasi harus dibuat diatas tanah keras yang stabil. Pengecekan tanah yang saksama diperlukan untuk proses ini. Jangan abaikan pembuatan sloof, yang berfungsi mengikat pondasi.

  1. Gunakan material yang ringan. Semakin ringan, kerusakan yang ditimbulkan akan semakin kecil. Untuk dinding, gunakan panel gypsum atau beton ringan, bahkan bambu. Sebagai rangkanya dapat digunakan kayu atau baja ringan. Sementara itu, untuk penutup atap sebaiknya gunakan genteng metal dengan rangka atap baja ringan atau kayu kering.


  1. Buat denah rumah sesederhana mungkin. Denah yang simetris juga memperkecil resiko kerusakan. Jika ada yang bersambung, misalnya denah membentuk T atau L, buat delatasi atau pemisah struktur di antara pertemuan massa bangunan.

  1. Tambahkan kolom praktis pada setiap 12 m² pada dinding, sebagai penguat. Ikat kolom ini ke sloof pada bagian bawah dan ke ringbalok pada bagian atas.


  1. Kolom juga harus dipasangi tulangan sengkang dengan jarak dan jumlah yang sesuai dengan perhitungan untuk menahan beban gempa. Untuk rumah 2 lantai, jarak antarsengkang cukup 20 cm. Untuk bagian ujung pertemuan antara kolom dan balok, jarak sengkang harus lebih rapat lagi.

  1. Intinya, jangan berhemat di struktur saat bangun rumah. Sementara untuk bagian lain, misalnya finishing, menghabiskan dana lebih banyak dibandingkan struktur. Padahal dari alokasi biaya, untuk struktur hanya 20-25% dari total biaya pembangunan.   


sumber : wartakota, kompasklasika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar