Selasa, 02 April 2013

Sarinah : Pusat Perbelanjaan Modern dan Pencakar Langit Pertama di Indonesia !



Sarinah adalah pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai yang terletak di Menteng, Jakarta. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1963 dan diresmikan pada tahun 1967 oleh Soekarno. Sarinah adalah pusat perbelanjaan modern dan juga pencakar langit pertama di Indonesia. Dilengkapi elevator dan pendingin udara, yang merupakan fasilitas tercanggih masa itu. Nama Sarinah berasal dari nama pengasuh Soekarno pada masa kecil dan pertama digagas oleh Sukarno, menyusul lawatannya ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern. Hal ini juga dimaksudkan Soekarno untuk membuat pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus.

Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama RI yang ingin menghargai dan memulyakan nama seorang pengasuhnya yang berasal dari kalangan bawah bernama "SARINAH", maka diabadikan sebuah nama pada Department Store pertama di Indonesia pada tahun 1962, tahun dicanangkan sebagai tahun berdirinya PT SARINAH (PERSERO) tepatnya tanggal 17 Agustus. 

Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta-kasih, Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata,” ujar Bung Karno dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung  Lidah Rakyat.

Ajaran cinta kasih yang diterima Sukarno dari Sarinah sangat melekat hingga Sukarno dewasa dan menjabat sebagai Presiden RI. Hal tersebut pun membawanya pada pemahaman soal kemanusiaan yang saat itu masih dianggap tabu, yakni kesetaraan gender. Pada tahun 1947, gagasan kesetaraan gender tersebut dituangkan dalam buku yang banyak membahas tentang pentingnya perempuan dalam membangun negara-bangsa, yakni Sarinah.




Gedung Sarinah yang saat ini berdiri sesungguhnya dibangun dengan biaya rampasan perang pemerintah Jepang yang pembukaan Department Store-nya pada tanggal 15 Agustus 1966.



Pada awal berdirinya Sarinah, situasi makro ekonomi Indonesia dalam keadaan ang sangat buruk. Oleh sebab itu Sarinah diharapkan akan menjadi timulator, mediator dan alat distribusi ke masyarakat luas dan menjalankan ungsinya sebagai stabilisator ekonomi, pelopor dalam pengembangan usaha perdagangan eceran (ritel) serta berpartisipasi dalam perubahan struktur perekonomian Indonesia.



Sesuai dengan namanya, Sarinah telah membantu kepentingan masyarakat kecil sebagai mitra usaha. Hingga saat ini cukup banyak mitra binaan Sarinah baik perorangan, perusahaan maupun koperasi.
Dalam perjalanannya Sarinah juga mengalami pasang surut. Bahkan pada tahun 1984 gedung Sarinah pernah mengalami kebakaran. Namun karena didorong oleh keinginan untuk melayani masyarakat, Sarinah yang telah menjadi aset nasional terus bangkkit kembali.

Sebagai mitra usaha kecil, terutama pengerajin, Sarinah ingin berperan lebih besar dalam memperkenalkan produk nasional ke mancanegara lewat ekspor yang semakin ditingkatkan dari waktu kewaktu.

Namun, sayangnya, kini Sarinah sudah bergeser jauh dari tujuan awal didirikannya. Sarinah tidak lagi menyediakan barang-barang murah berkualitas tinggi untuk rakyat. Sarinah kini tidak ada bedanya dengan pusat perbelanjaan-pusat perbelanjaan lainnya, yang dipenuhi barang dan restoran dengan harga yang tidak murah. Nama “Sarinah” itu sendiripun seakan luntur kebesaran maknanya. Masyarakat kini hanya mengenal Sarinah sebagai salah satu nama gedung dari sekian banyak gedung di Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar